Kisah teladan islami kali ini dengan kisah jenazah di alam kubur.
Setelah jenazah dimakamkan, hanya ada 2 kemungkinan yang terjadi, dia
akan mendapat nikmat kubur atau siksa kubur. Nah, salah satu yang bisa
menyelamatkan siksa kubur ini adalah Surat Al Mulk. Jadi setiap orang
yang rajin membaca surat Al Mulk maka dia nantinya akan selamat dari
siksa kubur.
Bagaimana kisahnya, apakah ada yang sudah pernah mengalami. Tentunya berbagai riwayat dan hadits yang mengisahkan.
Berikut Kisahnya.
Setiap orang akan mengalami yang namany mati, yaitu berpisahna ruh dari
tubuhnya, ia kan berada di alam Barzakh atau alam kubur. Dan alam kubur
ini adalah salah satu fase yang harus dialami oleh setiap ruh manusia.
Adalah Sayid Sabiq dalam kitabnya Al Aqaidul Islamih menyatakan bahwa
alam kubur adalah lebih luas daripada alam dunia. Perbandingannya antara
alam kubur dan alam dunia adalah sebagaimana berpandingan antara alam
dunia sekarang dengan alam kandungan ibu.
Selama seseorang berada dalam alam kubur, maka ia akan merasakan
berbagai macam peristiwa di dalam kuburnya. Mulai dari pertanyaan
Malaikat Munkar dan Nakir hingga pada siksa dan kenikmatan kubur.
RUMAH FITNAH.
Syekh Al Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menyatakan bahwa kubur dapat berkata kepada si mayit.
Rasulullah SAW bersabda,
"Kubur itu berkata kepada si mayit ketika mayat itu dimasukkan ke
dalamnya. 'Kasihan engkau wahai anak Adam! Apakah yang memperdayakan
engkau dengan aku? Apakah engkau tidak tahu bahwa aku ini rumah fitnah,
rumah gelap, rumah terpencil dan rumah ulat? Apakah yang memperdayakan
engkau dengan aku, karena engkau melewati aku dengan sikap fadzdzadz yaitu maju selangkah dan mundur (sikap ragu-rahu)."
Dari Abdullah bin Ubaid bin Umar ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda
bahwasanya mayat itu duduk dan mendengar langkah pengunjungnya. Maka
tiada sesuatu yang berkata kepada mayat selain kuburnya yang berbicara,
"Kasihan engkau wahai anak Adam! Bukankah engkau telah diperingatkan
tentang aku, sempitku, huru-haraku dan ulatku? Maka apakah yang kamu
persiapkan untukku?"
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW menyebut salah satu yang bisa
menyelamatkan dari siksa kubur adalah Surat Al Mulk. Orang yang semasa
hidupnya selalu membaca Surat Al Mulk akan selamat dari siksa kubur.
SABDA Rasulullah SAW.
Pernah suatu ketika sahabat Rasulullah SAW mendirikan kemahnya di atas
kuburan, akan tetapi sahabat tersebut tidak menyadari bahwa ia berda di
atas tanah kuburan. Sahabat itu tiba-tiba saja mendengar dari kubur
suara manusia yang sedang membaca surat Al Mulk. Suaranya sungguh merdu
dan enak didengar hingga suara itu telah mengkhatamlam surat Al Mulk.
Ketika Rasul SAW datang, sahabat bertanya,
"Aku telah mendengar seseorang sedang membaca surat Al Mulk dengan jelasnya dari dalam kubur."
Rasulullah SAW bersabda,
"Dialah yang menghalangi, dialah yang menyelamatkan, dapat menyelamatkan dari siksa kubur."
Mengenai fadhilah atau keutamaan dari membaca surat Al Mulk ini, Rasulullah SAW bersabda,
"Sesungguhnya ada sat surat yang terdiri dari 30 ayat, surat itu dapat
membela orang yang selalu membacanya hingga ia diampuni, yaitu Tabarakalladzi biyadihil mulk."
Surat Al Mulk adalah surat ke-60, terdiri dari 30 ayat dan termasuk dalam golongan surat-surat Makkiyah.
Ayo sahabat yang seiman, mumpung masih ada waktu segera usahakan membaca
surat Al Mulk setiap hari, karena begitu besar khasiatnya di alam kbur
nanti.
Berikut Surat Al Mulk 67: 1-30:
تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ١
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ ٢
الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ
طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ
الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ ٣
ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ ٤
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا
بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا
لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ ٥
وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ ٦
إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ ٧
تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ ٨
قَالُوا بَلَى قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ
فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ
إِلا فِي ضَلالٍ كَبِيرٍ ٩
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ ١٠
فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لأصْحَابِ السَّعِيرِ ١١
إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ ١٢
وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ ١٣
أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ ١٤
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ ذَلُولا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ ١٥
أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ ١٦
أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ ١٧
وَلَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ ١٨
أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ
فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلا الرَّحْمَنُ
إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ بَصِيرٌ ١٩
أَمْ مَنْ هَذَا الَّذِي هُوَ جُنْدٌ لَكُمْ يَنْصُرُكُمْ مِنْ دُونِ الرَّحْمَنِ إِنِ الْكَافِرُونَ إِلا فِي غُرُورٍ ٢٠
أَمْ مَنْ هَذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ بَلْ لَجُّوا فِي عُتُوٍّ وَنُفُورٍ ٢١
أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمْ مَنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ ٢٢
قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ ٢٣
قُلْ هُوَ الَّذِي ذَرَأَكُمْ فِي الأرْضِ وَإِلَيْهِ تُحْشَرُونَ ٢٤
وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ ٢٥
قُلْ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ ٢٦
فَلَمَّا رَأَوْهُ زُلْفَةً سِيئَتْ وُجُوهُ الَّذِينَ كَفَرُوا وَقِيلَ هَذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تَدَّعُونَ ٢٧
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَهْلَكَنِيَ اللَّهُ وَمَنْ مَعِيَ أَوْ رَحِمَنَا فَمَنْ يُجِيرُ الْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ ٢٨
قُلْ هُوَ الرَّحْمَنُ آمَنَّا بِهِ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ ٢٩
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ ٣٠
Artinya:
1. Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,
2. yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di
antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha
Pengampun,
3. yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali
tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak
seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang
tidak seimbang?
4. kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali
kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun
dalam Keadaan payah.
5. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan
bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar
syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.
6. dan orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, memperoleh azab Jahannam. dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali.
7. apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak,
8. Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali
dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga
(neraka itu) bertanya kepada mereka: "Apakah belum pernah datang kepada
kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?"
9. mereka menjawab: "Benar ada", Sesungguhnya telah datang kepada Kami
seorang pemberi peringatan, Maka Kami mendustakan(nya) dan Kami katakan:
"Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam
kesesatan yang besar".
10. dan mereka berkata: "Sekiranya Kami mendengarkan atau memikirkan
(peringatan itu) niscaya tidaklah Kami Termasuk penghuni-penghuni neraka
yang menyala-nyala".
11. mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.
12. Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak
nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang
besar.
13. dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui segala isi hati.
14. Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu
lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?
15. Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di
segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya
kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.
16. Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit
bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan
tiba-tiba bumi itu bergoncang?,
17. atau Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di
langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu
akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?
18. dan Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka Alangkah hebatnya kemurkaan-Ku.
19. dan Apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang
mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? tidak ada yang
menahannya (di udara) selain yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha
melihat segala sesuatu.
20. atau siapakah Dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu
selain daripada Allah yang Maha Pemurah? orang-orang kafir itu tidak
lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu.
21. atau siapakah Dia yang memberi kamu rezki jika Allah menahan
rezki-Nya? sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan
menjauhkan diri?
22. Maka Apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih
banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas
jalan yang lurus?
23. Katakanlah: "Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati". (tetapi) Amat sedikit kamu
bersyukur.
24. Katakanlah: "Dia-lah yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi, dan hanya kepada-Nya-lah kamu kelak dikumpulkan".
25. dan mereka berkata: "Kapankah datangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar?"
26. Katakanlah: "Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada
sisi Allah. dan Sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan
yang menjelaskan".
27. ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat) sudah dekat, muka
orang-orang kafir itu menjadi muram. dan dikatakan (kepada mereka)
Inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya.
28. Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Allah mematikan aku dan
orang-orang yang bersama dengan aku atau memberi rahmat kepada Kami,
(maka Kami akan masuk syurga), tetapi siapakah yang dapat melindungi
orang-orang yang kafir dari siksa yang pedih?"
29. Katakanlah: "Dia-lah Allah yang Maha Penyayang Kami beriman
kepada-Nya dan kepada-Nya-lah Kami bertawakkal. kelak kamu akan
mengetahui siapakah yang berada dalam kesesatan yang nyata".
30. Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi
kering; Maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?".
Tampilkan postingan dengan label Tadabbur Al Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tadabbur Al Qur'an. Tampilkan semua postingan
Senin, 29 Juli 2013
Sabtu, 22 Juni 2013
Deklarasi Mahluk Sosial dalam Surat Al Fatihah
Al-Fatihah adalah surat istimewa, selain karena kedudukannya sebagai
pembuka Al-Qur’an, juga dijadikan bacaan wajib pada setiap raka’at
sholat.
Al-Fatihah bisa dikatakan sebagai muqodimah dari kitab suci Al-Qur’an. Berapa kali kita membaca surat Al-Fatihah dalam sehari ?
Mari kita hitung, dalam sehari kita wajib sholat lima kali dengan total 17 raka’at, berarti dalam sehari kita membaca surat Al-Fatihah minimal 17 kali, jumlah ini tentu saja bertambah saat kita melaksanakan sholat sunat.
Tiap hari kita membaca Al-Fatihah minimal sebanyak itu, sejak kecil sampai dewasa. Pasti kita hafal di luar kepala, baik lafaz maupun terjemahannya.
Tapi pernahkah kita sesekali mendalami isi yang tersirat ketimbang sekedar terjemahan nya ?
Coba kita perhatikan tiga penggal kata yang terkandung di surat Al-Fatihah;
Kenapa bacaan kalimatnya tidak di ubah saja menjadi ;
Inilah salah satu makna yang tersirat dalam surat Al-Fatihah (Pembukaan). Surat Al-Fatihah ternyata menegaskan bahwa seorang muslim adalah makhluk sosial, bukan makhluk individual.
Seorang muslim dalam keseluruhan gerak hidupnya di tuntut untuk berperan sebagai makhluk sosial, ketimbang sebagai makhluk individual. Sejalan dengan ini, seorang muslim berkewajiban untuk turut memikirkan dan menangani persoalan masyarakat di lingkungan sosialnya.
Inilah “Deklarasi makhluk Sosial” yang tersirat dalam surat Al-fatihah. Bisa saja seorang muslim rajin melaksanakan sholat wajib dan sunat, rajin mengaji Al-Qur’an, berkali-kali pergi haji, menghindari perbuatan dosa, pokoknya bisa disebut orang sholeh.
Namun sangat disayangkan masyarakat disekitarnya masih dilanda kemungkaran, kemiskinan, kebodohan dan tata sosial yang masih bobrok. Jika si muslim sholeh ini tak peduli dengan kondisi masyarakat ini, dan tidak melakukan apa pun untuk membantu menanganinya, bisa dikatakan dia seorang muslim yang egois.
Dia hanya memikirkan kesholehan dirinya sendiri dihadapan Alloh, tapi tidak memperdulikan berbagai faktor yang menjadi penyebab ke tidak sholehan pada masyarakat sekitarnya.
Dengan demikian sikap dan perilaku seorang muslim yang anti sosial, bisa dikatakan bertentangan dengan nafas surat Al-Fatihah.
Na’udzu billah tsumma na’udzu billah
Al-Fatihah bisa dikatakan sebagai muqodimah dari kitab suci Al-Qur’an. Berapa kali kita membaca surat Al-Fatihah dalam sehari ?
Mari kita hitung, dalam sehari kita wajib sholat lima kali dengan total 17 raka’at, berarti dalam sehari kita membaca surat Al-Fatihah minimal 17 kali, jumlah ini tentu saja bertambah saat kita melaksanakan sholat sunat.
Tiap hari kita membaca Al-Fatihah minimal sebanyak itu, sejak kecil sampai dewasa. Pasti kita hafal di luar kepala, baik lafaz maupun terjemahannya.
Tapi pernahkah kita sesekali mendalami isi yang tersirat ketimbang sekedar terjemahan nya ?
Coba kita perhatikan tiga penggal kata yang terkandung di surat Al-Fatihah;
- Iyyaaka na’budu (hanya kepada-Mu lah kami mengabdi/menyembah)
- Wa iyyaaka nasta’iin (dan hanya kepada-Mu lah kami mohon pertolongan)
- Ihdinash shiroothol mustaqiim (tunjukkanlah kami jalan yang lurus)
Kenapa bacaan kalimatnya tidak di ubah saja menjadi ;
- Iyyaaka a’budu (hanya kepada-Mu lah aku mengabdi/menyembah)
- Wa iyyaaka asta’iin (dan hanya kepada-Mu lah aku mohon pertolongan)
- Ihdiish shiroothol mustaqiim (tunjukkanlah aku jalan yang lurus)
Inilah salah satu makna yang tersirat dalam surat Al-Fatihah (Pembukaan). Surat Al-Fatihah ternyata menegaskan bahwa seorang muslim adalah makhluk sosial, bukan makhluk individual.
Seorang muslim dalam keseluruhan gerak hidupnya di tuntut untuk berperan sebagai makhluk sosial, ketimbang sebagai makhluk individual. Sejalan dengan ini, seorang muslim berkewajiban untuk turut memikirkan dan menangani persoalan masyarakat di lingkungan sosialnya.
Inilah “Deklarasi makhluk Sosial” yang tersirat dalam surat Al-fatihah. Bisa saja seorang muslim rajin melaksanakan sholat wajib dan sunat, rajin mengaji Al-Qur’an, berkali-kali pergi haji, menghindari perbuatan dosa, pokoknya bisa disebut orang sholeh.
Namun sangat disayangkan masyarakat disekitarnya masih dilanda kemungkaran, kemiskinan, kebodohan dan tata sosial yang masih bobrok. Jika si muslim sholeh ini tak peduli dengan kondisi masyarakat ini, dan tidak melakukan apa pun untuk membantu menanganinya, bisa dikatakan dia seorang muslim yang egois.
Dia hanya memikirkan kesholehan dirinya sendiri dihadapan Alloh, tapi tidak memperdulikan berbagai faktor yang menjadi penyebab ke tidak sholehan pada masyarakat sekitarnya.
Dengan demikian sikap dan perilaku seorang muslim yang anti sosial, bisa dikatakan bertentangan dengan nafas surat Al-Fatihah.
Na’udzu billah tsumma na’udzu billah
Selasa, 18 Juni 2013
Keutamaan Membaca Al Quran
Oleh : Imam An Nawawi
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu
membaca kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendirikan sembahyang dan
menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka
dengaan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan
perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah Subhanahu wa Ta’ala
menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka
dari anugerah-Nya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Pengampun
lagi Maha Mensyukuri.” (QS Fathiir 35, 29-30)
Telah saya sebut dari Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anh, katanya,
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sebaik-baik kamu
ialah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (Riwayat Abu
Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari dalam shahihnya)
Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anh, katanya, Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an
sedangkan dia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat di dalam Surga
bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang
yang membaca Al-Qur’an, tetapi dia tidak mahir, membacanya
tertegun-tegun dan nampak agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan
mendapat dua pahala.” (Riwayat Bukhari dan Abul Husain Muslim bin
Al-Hujjaj bin Muslim Al-Qusyaiy An-Nisabury dalam dua kitab Shahih
mereka)
Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anh, katanya,
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Perumpamaan orang
Mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Utrujjah yang
baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan orang mukmin yang tidak
membaca Al-Qur’an seperti buah kurma yang tidak berbau sedang rasanya
enak dan manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an adalah
seperti raihanah yang baunya harum sedang rasanya pahit. Dan perumpamaan
orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti hanzhalah yang tidak berbau sedang rasanya pahit.” (Riwayat Bukhari & Muslim)
Diriwayatkan dari Umar bin Al-Kattab Radhiyallahu ‘Anh, bahwa Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesunggunya Allah Subhanahu wa
Ta’ala mengangkat derajat beberapa golongan manusia dengan kalam ini
dan merendahkan derajat golongan lainnya.” (Riwayat Bukhari &
Muslim)
Diriwayatkan daipada Abu Umamah Radhiyallahu ‘Anh, katanya, Aku
medengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bacalah
Al-Qur’an karena dia akan datang pada hari Kiamat sebagai juru syafaat
bagi pembacanya.” (Riwayat Muslim)
Diriwayatkan dari pada Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anh, dari pada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Baginda Bersabda,
“Tidak bisa iri hati, kecuali kepada dua seperti orang, yaitu orang
lelaki yang diberi Allah Subhanahu wa Ta’ala pengetahuan tentang
Al-Qur’an dan diamalkannya sepanjang malam dan siang; dan orang lelaki
yang dianugerahi Allah Subhanahu wa Ta’ala harta, kemudian dia
menafkahkannya sepanjang malam dan siang.” (Riwayat Bukhari &
Muslim)
Telah saya sebut pula dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anh
dengan lafaz, “Tidak bisa iri hati, kecuali kepada dua macam orang,
yaitu orang lelaki yang dianugerahi Allah Subhanahu wa Ta’ala harta,
kemudian dia membelanjakannya dalam keperluan yang benar. Dan orang
lelaki yang dianugerahi Allah Subhanahu wa Ta’ala hikmah (Ilmu),
kemudian dia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya.”
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anh, katanya,
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa
membaca satu huruf Kitab Allah, maka dia mendapat pahala satu kebaikan
sedangkan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan
Alif Lam Mim satu huruf, tetapi Alif, satu huruf dan Lam satu huruf
serta Mim satu huruf.” (Riwayat Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi dan
katanya, hadits Hasan Shahih)
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anh dari Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Baginda bersabda: Allah berfirman,
“Barangsiapa disibukkan dengan mengkaji Al-Qur’an dan menyebut nama-Ku,
sehingga tidak sempat meminta kepada-Ku, maka Aku berikan kepadanya
sebiak-baik pemberian yang Aku berikan kepada orang orang yang meminta.”
Dan keutamaan kalam Allah atas perkataan lainnya adalah seperti,
keutamaan Allah atas makhluk-Nya. (Riwayat Tirmidzi dan katanya, hadits
hasan)
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anh, katanya, Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang tidak
terdapat dalam rongga badannya sesuatu dari Al-Qur’an adalah seperti
rumah yang roboh.” (Riwayat Tirmidzi dan katanya, hadits hasan sahih)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amrin Ibnul Ash Radhiyallahu ‘Anh dari
pada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Dikatakan kepada
pembaca Al-Qur’an, bacalah dan naiklah serta bacalah dengan tartil
seperti engkau membacanya di dunia karena kedudukanmu adalah pada akhir
ayat yang engkau baca.” (Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i,
Tirmidzi berkata, hadits hasan sahaih)
Diriwayatkan dari Mu’adz bin Anas Radhiyallahu ‘Anh bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa membaca Al-Qur’an
dan mengamalkan isinya, Allah memakaikan pada kedua orang tuanya di hari
kiamat suatu mahkota yang sinarnya lebih bagus dari pada sinar matahari
di rumah-rumah di dunia. Maka bagaimana tanggapanmu terhadap orang yang
mengamalkan ini.” (Riwayat Abu Dawud)
Ad-Darimi meriwayatkan dengan isnadnya dari Abdullah bin Mas’ud dari
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Bacalah Al-Qur’an karena Allah
tidak menyiksa hati yang menghayati Al-Qur’an. Dan sesungguhnya
Al-Qur’an ini adalah jamuan Allah, maka siapa yang masuk di dalamnya,
dia pun aman. Dan siapa mencintai Al Qur’an, maka berilah kabar
gembira.”
Diriwayatkan dari Abdul Humaidi Al-Hamani, katanya, “Aku bertanya
kepada Sufyan Ath-Tsauri, manakah yang lebih engkau sukai, orang yang
berperang atau orang yang membaca Al-Qur’an?” Sufyan menjawab, “Membaca
Al-Qur’an. Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda. ‘Orang
yang terbaik di antara kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan
mengajarkannya.”
Langganan:
Postingan (Atom)


