Tampilkan postingan dengan label Tausiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiah. Tampilkan semua postingan
Minggu, 28 Juli 2013
Mencontoh Puasa Rasulullah SAW, Bagian 3
NIAT
1. Wajibnya berniat puasa sebelum datang waktu subuh ketika puasa wajib.
Jika telah jelas masuknya bulan Ramadhan dengan penglihatan mata atau persaksian atau dengan menyempurnakan bulan Sya'ban menjadi tiga puluh hari, maka wajib atas setiap muslim yang mukallaf untuk berniat puasa di malam harinya, berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam (yang artinya): Barangsiapa yang tidak berniat sebelum fajar untuk puasa maka tidak ada puasa baginya.1)
Dan Sabdanya (yang artinya): Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam harinya maka tidak ada puasa baginya.2)
Niat itu tempatnya di hati, dan kewajiban untuk berniat sejak malam itu khusus bagi puasa wajib, karena Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam pernah datang ke Aisyah selain bulan ramadhan beliau berkata : Apakah engkau punya santapan siang ? kalau nggak ada aku berpuasa.3)
Hal ini juga dilakukan oleh para shahabat: Abu Darda', Abu Thalhah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu 'anhum kita dibawah bendera sayyidnya bani Adam.4)
Ini berlaku dalam puasa sunnah menunjukan wajibnya niat di malam hari sebelum terbit fajar dalam puasa wajib, Wallahu Ta'ala A'lam.
2. Kemampuan adalah dasar pembebanan syari'at.
Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan, tapi dia tidak tahu sehingga diapun makan dan minum kemudian tahu, maka dia harus menahan diri serta menyempurnakan puasanya, cukuplah puasanya tersebut (tidak perlu di qodho'). Barangsiapa yang belum makan dan minum (tapi tidak tahu telah masuk Ramadhan) tidak disyari'atkan niat malam hari karena dia tidak mampu (tidak mengetahui telah masuknya bulan Ramadhan), padahal diantara ushul syari'at yang sudah ditetapkan. kemampuan adalah dasar pembebanan syari'at.
Dari Aisyah radhiallahu 'anha : Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam pernah memerintahkan puasa 'Asyura,maka ketika diwajibkan puasa Ramadhan, orang yang mau puasa 'Asyura dibolehkan, yang mau berbuka pun dipersilahkan.5)
Dan dari Salamah bin Al-Akwa' radhiallahu 'anhu berkata : Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam menyuruh seseorang dari bani Aslam untuk mengumumkan kepada manusia bahwasanya barangsiapa yang sudah makan hendaklah puasa sampai maghrib, dan barangsiapa yang belum makan teruskanlah berpuasa karena hari ini adalah hari 'Asyura.6)
Puasa hari 'Asyura dulunya adalah wajib kemudian dimansukh (dihapus kewajiban tersebut), mereka telah diperintahkan untuk tidak makan dari mulai siang dan itu cukup bagi mereka, puasa Ramadhan adalah puasa wajib maka hukumnya sama dengan puasa 'Asyura ketika masih wajib, tidak berubah (berbeda) sedikitpun.
3. Sebagian Ahli Ilmu berkata harus mengqodho' dan 'Asyura bukan wajib.
Ketahuilah saudara seiman bahwa seluruh dalil menerangkan bahwa puasa 'Asyura itu wajib karena adanya perintah untuk puasa dihari tersebut., sebagaimana dalam hadits Aisyah, kemudian kewajiban ditekankan lagi karena diserukan secara umum, kemudian ditambah pula dengan perintah orang yang makan untuk menahan diri (tidak makan lagi) sebagaimana dalam hadits Salamah bin Al-Akwa' tadi, serta hadits Muhammad bin Shaifi Al-Anshary: Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam keluar menemui kami pada hari 'Asyura kemudian berkata : Apakah kalian puasa hari ini ? sebagian mereka berkata : tidak. Beliau berkata : Sempurnakanlah puasa disisa hari ini. Dan menyuruh mereka untuk memberitahu penduduk Arrud kota madinah –Untuk menyempurnakan sisa hari mereka.7)
Yang memutuskan perselisihan ini adalah perkataan Ibnu Mas'ud:8) Ketika diwajibkan puasa Ramadhan ditinggalkanlah 'Asyura,
Dan ucapan Aisyah 9) juga: Ketika turun kewajiban puasa Ramadhan, maka Ramadhanlah yang wajib, dan ditinggalkanlah 'Asyura (tidak wajib lagi). Walaupun demikian, sunnahnya puasa 'Asyura tidak dihilangkan, sebagaimana dinukil oleh Al-Hafidz (4/264) dari Ibnu Abdil Barr, jelaslah bahwa sunnahnya puasa 'Asyura masih ada, yang dihapus itu hanyalah kewajibannya. Wallahu A'lam.
Sebagian lagi berkata : Jika puasa wajib niscaya telah mansukh (dihapus) juga hukum-hukumnya. Yang benar hadits-hadits tentang 'Asyura menunjukan beberapa perkara :
1. Wajibnya puasa 'Asyura.
2. Barangsiapa yang tidak berniat di malam hari ketika puasa wajib sebelum terbitnya fajar karena tidak tahu tidaklah rusak puasanya.
3. Barangsiapa yang makan minum kemudian tahu disisa hari tersebut tidak wajib mengqodho'.
Yang mansukh adalah masalah perkara yang pertama (wajibnya), hingga 'Asyura hanyalah sunnah sebagaimana telah kita jelaskan, dimansukhnya hukum tersebut bukan berarti menghapus hukum-hukum lainnya. Wallahu A'lam. Mereka berdalil dengan hadits Abu Daud (2447) dan Ahmad (5/409) dari jalan Qatadah dari Abdurrahman bin Salamah dari pamannya : bahwa Aslam pernah mendatangi Nabi kemudian Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: Kalian puasa hari ini ? mereka menjawab : Tidak. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda : Sempurnakanlah sisa hari ini kemudian qadhalah kalian. Hadits ini lemah, karena ada dua illat (cela):
Majhulnya (tidak dikenalnya) Abdurrahman bin Salamah, Adz-Dzahabi berkata tentangnya :Al-Mizan (2/567): Tidak dikenal. Al-Hafidz berkata dalam At-Tahzib (6/239):keadaaannya majhul. Dibawakan oleh Ibnu Abi Hatim di dalam Aj-Jarhu wa At-Ta'dil (5/288), tidak disebutkan padanya jarh atau ta'dil. Juga ada 'an 'anah Qatadah padahal dia seorang mudallis.
(Bersambung)
-------------------
1) HR Abu Daud (2454), Ibnu Majah (1933), Al-Baihaqi (4/202), dari jalan Ibnu Wahab, dari Ibnu Lahi'ah dan Yahya bin Ayyub dari Abdullah bin Abi Bakar bin Hazm dari Ibnu Sihab, dari Salim bin Abdillah dari bapaknya dari Hafshah dalam satu lafadz dalam riwayat At-thahawiyah di Syarhu Ma'anil Atsar (1/54): berniat dimalam dari jalan sendiri. Diriwayatkan pula oleh An-Nasa'I (4/196), Tirmidzi (730) dari jalan lain dari Yahya, sanadnya SHAHIH
2) HR An-Nasa'I (4/196), Al-Baihqi (4/202), Ibnu Hazm (6/162), dari jalan Abdur Razaq dari Ibnu Juraij dari Ibnu Syihab. Sanadnya SHAHIH kalau tidak ada 'an 'anah Ibnu Juraij, akan tetapi shahih dengan riwayat sebelumnya.
3) HR Muslim (1154)
4) Lihatlah dan takhrijnya dalam Taghliq Taqliq (3/144-147)
5) HR Bukhori (4/212) dan Muslim (1125)
6) HR Bukhori (4/216) dan Musllim (1135)
7) HR Ibnu Khuzaimah (3/389), ahmad (4/388), An-nasa'I (4/192), Ibnu Majah (1/552), Ath-thabrani dalam Al-Kabir (18/238) dari jalan Asy-Sya'bi darinya. Dengan sanad SHAHIH.
8) HR Muslim (1127)
9) HR Muslim (1125)
Kamis, 25 Juli 2013
Berani dan Optimis melalui Tawakal
Oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman
(Bahkan) Orang yang
paling minim tingkat ilmunya tidak meragukan keluasan rahmat Allah
Subhanahuwata’ala di dunia ini. Setiap makhluk merasakan dan mendapatkannya.
Namun, semua itu tidaklah sebanding dengan keluasan rahmat-Nya di akhirat
kelak.
Di dunia, Allah
Subhanahuwata’ala menurunkan satu dari seratus rahmat-Nya dan 99 rahmat
dipersiapkan bagi orang yang beriman kelak di hari kiamat. Tentu merugi dan
celaka jika seseorang terlalaikan oleh satu rahmat dan melupakan rahmat yang
akan didapatkan kelak di akhirat.
Seseorang dengan mudah
bisa mendapatkan keluasan rahmat Allah Subhanahuwata’ala di dunia, akan tetapi
untuk mendapatkan yang 99 tersebut membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang
tidak sedikit. Dengan mengetahui luasnya rahmat Allah Subhanahu wata’ala
di dunia ataupun di akhirat, menjadikan seseorang berani sekaligus
berharap (raja’) di dalam hidup.
Berani untuk menghadapi segala risiko dalam usaha meraih rahmat yang
luas tersebut dan berharap karena Allah Yang Maha Pemurah akan mencurahkan
rahmat- Nya kepada siapa pun.
Di sinilah letak
keistimewaan hidup orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahuwata’ala.
Kala menjalani hidup, dadanya senantiasa lapang dan luas, karena dia mengetahui
rahasia hidup ini dan rahasia kebahagiaan di atasnya. Mereka berani dalam
menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi dalam menjalankan roda ketaatan
dan berharap dalam keluasan rahmat, pengampunan, dan kedermawanan Allah
Subhanahuwata’ala.
Namun orang orang yang
beriman tersebut sebelum menjadi orang yang berani dan berharap, mereka telah
berkarya besar sembari menyandarkan diri kepada Allah Subhanahuwata’ala dalam
segala usahanya.
YANG MENJADIKAN
DADA LAPANG
1. Tauhid
Al-Imam Ibnu Qayyim
rahimahumullah mengatakan, “Hal terbesar yang akan menjadikan dada lapang
adalah ketauhidan. Berdasarkan kesempurnaannya, kekuatannya, dan bertambahnya,
kelapangan dada akan mengalami yang serupa. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,
“Apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (
menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang
yang membatu hatinya)?”
(az-Zumar: 22)
“Barang siapa yang Allah kehendaki akan memberikan
kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama)
Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah Subhanahuwata’ala kesesatannya,
niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang
mendaki langit.” (al-An’am 125)
Petunjuk dan tauhid
adalah sebab yang paling besar bagi lapangnya dada, sebagaimana syirik dan
kesesatan sebagai sebab terbesar dada menjadi sempit dan sulit.
2. Iman
Termasuk perkara yang
akan menjadikan dada itu lapang adalah cahaya iman yang diletakkan oleh Allah
Subhanahuwata’ala di dalam hati. Dengannya dada menjadi lapang, menjadikan hati
selalu dalam kebahagiaan. Jika cahaya iman tersebut sirna, dadanya akan menjadi
sempit dan sulit, berada dalam kungkungan yang paling sempit dan sulit. Seorang
hamba akan mendapatkan kelapangan dada sesuai dengan bagian yang dia dapatkan
dari cahaya tersebut, sebagaimana halnya cahaya yang bisa diraba serta
kegelapan yang bisa di indra akan menjadikan dada lapang dan dada sempit.
3. Ilmu
Ilmu akan menjadikan
dada lapang dan menjadikannya luas, bahkan melebihi luasnya dunia. Sementara
itu, kejahilan akan mewariskan dada yang sempit, kerdil, dan tertutup. Di saat
ilmu seorang hamba bertambah luas, maka bertambah lapang dadanya.
Tentu saja, hal ini
tidak mencakup semua ilmu, tetapi hanya ilmu yang diwariskan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ilmu (agama) yang bermanfaat. Pemilik ilmu
yang bermanfaat adalah orang yang paling lapang dadanya, paling luas hatinya,
paling baik akhlaknya, dan paling bagus kehidupannya.
4. Bertobat
kepada Allah Subhanahu wata’ala
Bertobat kepada Allah
Subhanahuwata’ala, mencintai- Nya setulus hati, mempasrahkan diri kepada-Nya,
dan bernikmat-nikmat beribadah kepada-Nya, akan menjadikan dada lapang.
Sebagian mereka terkadang mengucapkan, “Jika saya di dalam surga dalam kondisi
ini, niscaya saya berada dalam kehidupan yang baik.”
5. Cinta
kepada Allah Subhanahu wata’ala
Sungguh, cinta kepada
Allah Subhanahuwata’ala memiliki pengaruh menakjubkan bagi lapangnya dada,
baiknya jiwa, dan lezatnya hati. Tidak ada yang mengetahuinya selain orang yang
bisa merasakannya. Saat cinta itu kuat dan keras, niscaya dada itu akan menjadi
lapang dan luas. Tidaklah dada menjadi sempit kecuali tatkala melihat
orang-orang yang telanjang dari semuanya ini. Memandang mereka akan menjadikan
mata kita penuh kotoran dan bergaul dengan mereka menjadikan ruh kita panas.
Termasuk perkara besar
yang akan menyebabkan dada sesak adalah berpaling dari Allah Subhanahuwata’ala,
bergantungnya hati kepada selain Allah Subhanahuwata’ala, lalai dari menginga
Allah Subhanahuwata’ala, dan mencintai selain Allah Subhanahuwata’ala. Barang
siapa mencintai sesuatu selain Allah Subhanahuwata’ala, niscaya Allah
Subhanahuwata’ala akan mengazabnya dengan sesuatu (selain Allah) tersebut, yang
akibatnya hatinya terbelenggu dalam mencintai selain Allah Subhanahuwata’ala.
Akhirnya, tidak ada orang yang paling celaka di muka bumi ini daripada dirinya,
tidak ada yang paling tertutup akalnya, yang paling jelek kehidupannya, dan
yang paling lelah hati daripada dirinya.
6. Zikir
kepada Allah Subhanahuwata’ala
Zikir kepada Allah
Subhanahuwata’ala dalam segala kondisi dan di setiap tempat. Maka dari itu,
zikir itu memiliki pengaruh menakjubkan terhadap lapangnya dada dan nikmatnya
hati. Tentunya, sikap lalai memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam
menyempitkan dada, terbelenggu dan tersiksanya.
7. Berbuat
Baik kepada Makhluk
Berbuat baik kepada
setiap makhluk dan memberikan manfaat kepada mereka dengan segala yang
memungkinkan seperti dengan harta, kedudukan, dan yang bermanfaat untuk badan
(jasmani), serta berbagai bentuk kebaikan lainnya. Seorang yang dermawan dan
senang berbuat baik adalah orang yang paling lapang dadanya, yang paling baik
jiwanya, dan yang paling tenteram hatinya.
Sementara itu, sifat
bakhil (pelit) yang tidak ada padanya kebaikan adalah orang yang paling sempit
dadanya, paling jelek kehidupannya, serta yang paling besar keperihan dan
kesedihan hidupnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
mempermisalkan dalam riwayat yang sahih orang yang bakhil dan rajin bersedekah
seperti halnya dua orang yang memiliki dua tameng besi.
Di saat orang yang
gemar bersedekah mengeluarkan sedekahnya, maka melebarlah tameng itu dan
meluas, hingga menutupi pakaian dan anggota badannya. Adapun apabila orang
bakhil ingin bersedekah, tetaplah setiap lingkaran besi pada posisinya,
tidak meluas. Demikianlah permisalan orang yang beriman dan gemar untuk
bersedekah, lapang hatinya. Demikian pula pemisalan orang yang bakhil, sempit
dadanya dan tersekap hatinya.
8. Keberanian
Seseorang yang memiliki
jiwa pemberani akan memiliki dada yang lapang, luwes perangainya, dan terbuka
hatinya. Sementara itu, seorang yang penakut berada dalam kondisi dada yang
sempit dan yang paling kerdil hatinya. Dia tidak memiliki kebahagiaan, kesenangan,
kelezatan, dan kenikmatan selain sebagaimana halnya binatang.
Oleh karena itu,
kebahagiaan ruh, kelezatannya, kenikmatannya, dan kewibawaannya, menjadi
sesuatu yang haram didapatkan orang yang memiliki sifat penakut, sebagaimana
halnya terhalangi bagi orang yang bakhil, orang yang berpaling dari Allah
Subhanahuwata’ala, lalai dari berzikir kepada-Nya, jahil tentang Allah
Subhanahuwata’ala, nama-nama-Nya, sifat-sifat- Nya, dan tentang agama-Nya,
serta menggantungkan hatinya kepada selain Allah Subhanahuwata’ala.
Semua bentuk kenikmatan
ini akan menjadi kebun dari salah satu kebun surga di dalam kubur. Demikian
halnya kesempitan dada dan kerdilnya hati akan berubah menjadi azab dan
belenggu di dalam kubur. Keberadaan seseorang di alam kubur bagaikan keberadaan
hati di dalam dada, akankah bernikmat atau mendapat siksaan, terbelenggu atau
mendapatkan kemerdekaan? Tidak ada yang menjadi penghalang jika dada tersebut
menjadi lapang, sebagaimana tidak ada yang akan menjadikan dada tersebut sempit,
karena semuanya itu akan sirna dengan sirnanya sebab-sebabnya. Segala sifat
yang akan menyentuh dan hinggap di dalam hati, maka itulah yang akan menjadikan
dada tersebut lapang atau sempit. Inilah yang menjadi barometernya,
wallahulmusta’an.”(Zadul Ma’ad 2/23)
Berani dan
Berharap, Sebuah Pengorbanan dan Perjuangan
Berani dan berharap
dalam hidup adalah dua senyawa yang jika bertemu dan berbaur, akan menjadi
sebuah akhlak yang sangat terpuji. Sifat berani adalah sifat terpuji yang
mengandung segala akhlak yang terpuji lainnya.
Keberanian adalah buah
dari iman seseorang kepada Allah Subhanahuwata’ala. Terlebih jika dia mengimani
adanya hari kebangkitan dan hari kiamat. Allah Subhanahuwata’ala telah memuji
sifat berani di jalan-Nya sebagaimana dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim
dari sahabat Abu Musa radhiyallahu anhu, ia berkata, “Dikatakan, ‘Ya
Rasulullah, seseorang berperang dengan keberanian, berperang karena kebangsaan,
berperang dengan landasanriya, siapakah diantara mereka Yang benar-benar
berjuang di jalan Allah Subhanahuwata’ala?’
Beliau menjawab, “Barangsiapa berperang untuk menegakkan
kalimat Allah Subhanahuwata’ala, sesungguhnya dialah yang berada di atas jalan
Allah Subhanahuwata’ala.” Kesempurnaan sifat
keberanian itu ada pada sifat al-hilm yang artinya sabar, tidak tergesa-gesa,
cerdas, dan tangkas, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam,
“Bukanlah yang dinamakan kuat itu adalah orang yang bisa
membanting lawan, tetapi yang dikatakan kuat adalah orang yang bisa menahan diri
tatkala marah.” (Majmu’ Fatawa
15/432)
Berharap adalah buah
dari ilmu tentang sifat rahmat Allah Subhanahuwata’ala, seperti pengampunan,
kelembutan, maaf, dan kebaikan. Berharap terhadap pahala yang ada di sisi-Nya termasuk
amalan hati yang paling besar dan pendorong kepada ketaatan yang paling kuat.
Kekuatan berharap di dalam hati tergantung pada kekuatan ilmu kita kepada Allah
Subhanahuwata’ala dan sifat-sifat-Nya.
Ibnul Qayyim
rahimahumullah berkata , “Kuatnya berharap itu tergantung pada kekuatan
pengetahuan tentang Allah Subhanahuwata’ala, nama-nama dan sifat-sifat-Nya,
serta pengetahuan bahwa rahmat Allah Subhanahuwata’ala mengalahkan murka-Nya.
Tanpa ruh berharap, niscaya akan lenyaplah ubudiyah hati dan anggota badan.
Akan hancur pula tempat-tempat menyebut nama-nama Allah Subhanahuwata’ala.”
Berharap itu adalah
sebuah ibadah yang tidak boleh lepas dari kehidupan seorang muslim, baik saat
melakukan kebaikan maupun melakukan kejelekan. Saat dia melakukan kebaikan, dia
berharap bahwa amalnya diterima, yang wajib atau yang sunnah. Adapun saat dia
melakukan kejelekan, dia berharap diterima tobatnya dan dimaafkan
kesalahan-kesalahannya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang
berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah,
dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 218)
Katakanlah,“Hai hamba-hamba- Ku yang melampaui batas
terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Alah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (az-Zumar: 53)
Maksud ayat ini adalah
bagi orang yang bertobat. Oleh karena itu, Allah Subhanahuwata’ala mengumumkan
bagi orang yang berbuat dosa, apa pun perbuatan dosa tersebut. Artinya, Allah
Subhanahuwata’ala akan mengampuni dengan taubat yang baik, bagi siapa pun yang
berdosa atas dosa apa pun, dan ini khusus taubat sebagai sebab pengampunan.
Sampai-sampai ulama berselisih pendapat dalam hal mana yang lebih utama antara
dua orang yang berharap tersebut. Sebagian mereka mengatakan lebih utama
berharapnya orang yang berbuat baik, karena kuatnya sebab-sebab berharap itu
pada dirinya.
Sebagian lagi
mengatakan yang lebih utama adalah berharapnya orang yang berbuat salah untuk
bertobat karena berharapnya itu bersih dari amalan yang jelek dan selalu
dibarengi melihat kesalahannya. Namun, yang tampak adalah keutamaan tersebut
tidak ditinjau dari sisi berharap itu, tetapi keutamaan tersebut sangatlah
tergantung pada apa yang terdapat di dalam hati pemiliknya yaitu sifat takwa di
saat dia berharap. Barang siapa lebih bertakwa, tentu berharapnya lebih afdal,
apakah di saat dia berbuat baik ataupun berbuat salah. Allah Subhanahuwata’ala
berfirman,
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian
disisi Allah Subhanahu wata’ala alah orang yang paling takwa diantara kalian.” (al-Hujurat: 13)
Dari penjelasan di
atas, tampak jelas tentang berharap yang terpuji berupa bentuk berharapnya
orang yang berbuat amalan agar amalnya diterima, atau berharapnya orang yang
bertaubat agar taubatnya diterima. Adapun berharap yang kosong dari karya nyata
(amal) dan terus dalam kemaksiatan lalu bersandar kepada pengampunan Allah
Subhanahuwata’ala maka sikap ini adalah maghrur (tertipu) dan merasa aman dari
azab Allah Subhanahuwata’ala.”
“Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak
terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang
merugi.” (al- A’raf: 99)
Sebab, hukuman orang
yang berbuat maksiat adalah istidraj (dibiarkan) atas kemaksiatannya, pada
akhirnya dibinasakan setelahnya.” (Atsar al- Matsalul al-‘A’la hlm. 25)
Ilmu,
Fondasi Akhlak yang Agung
Ibnu Qayyim
rahimahumullah berkata , “Pengetahuan seorang hamba tentang keesaan Allah
Subhanahuwata’ala dalam hal menolak mudarat, mendatangkan manfaat, memberi,
tidak memberi, menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan akan
membuahkan ubudiyah tawakal batiniah.
Konsekuensi tawakal dan
buahbuahnya jelas sekali. Pengetahuan dia tentang Allah Maha Mendengar, Melihat,
dan tentang ilmu Allah Subhanahuwata’ala yang tidak tersembunyi bagi-Nya
sesuatu pun yang paling kecil, baik di langit maupun di bumi. Allah
Subhanahuwata’ala mengetahui yang tersembunyi dan yang tampak. Allah Subhanahu
wata’ala juga mengetahui mata yang berkhianat dan segala yang tersembunyi
di dalam dada. Semua ini akan membuahkan terjaganya lisan, anggota badan, dan
pikirannya dari segala yang tidak diridhai oleh Allah Subhanahuwata’ala.
Dia menjadikan semua
anggota tubuhnya tergantung kepada apa yang dicintai oleh Allah
Subhanahuwata’ala dan diridhai-Nya. Semua ini juga akan melahirkan rasa malu di
dalam batin yang akan membuahkan sikap menjauhkan diri dari segala yang
diharamkan dan segala yang jelek. Mengenal Allah Subhanahu wata’ala bahwa
dia adalah Dzat yang Mahakaya, dermawan, mudah memberi, banyak kebaikannya, dan
penyayang; akan melahirkan harapan yang luas lalu membuahkan segala bentuk
ubudiyah lahiriah dan batiniah.
Semuanya tergantung
pada pengetahuan dan ilmunya. Demikian pula pengetahuan seorang hamba tentang
keagungan Allah Subhanahuwata’ala, kemuliaan-Nya akan membuahkan ketundukan,
ketenteraman, dan kecintaan yang akan melahirkan segala bentuk pengabdian
lahiriah kepada Allah Subhanahu wata’ala dan itulah konsekuensinya.
Demikian pula tatkala
berilmu tentang kesempurnaan dan keindahan, serta ketinggian sifatsifat- Nya
akan melahirkan kecintaan yang khusus dalam semua bentuk ubudiyah. Oleh karena
itu, semua bentuk pengabdian akan kembali kepada namanama dan sifat-sifat Allah
Subhanahu wata’ala . Semua bentuk peribadahan terikat dengan semua di atas
sebagaimana terikatnya ciptaan dengan-Nya.
Di alam ini, seluruh
ciptaan dan perintah Allah Subhanahuwata’ala adalah konsekuensi dari nama-nama
dan sifatsifat- Nya. Allah Subhanahuwata’ala tidak akan menjadi mulia karena
ketaatan mereka dan tidak akan hina karena kemaksiatan mereka. Renungilah sabda
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam Shahih al-Bukhari, yang
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayatkan dari Rabbnya,
“Hai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak mampu
berbuat mudarat terhadap-Ku hingga mencelakai- Ku. Kalian juga tidak dapat
berbuat kemanfaatan bagi-Ku hingga memberiku manfaat.” Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menyebutkannya setelahnya,
“Hai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian melakukan
kesalahan dimalam hari dan sianghari, sementara Aku adalah pengampun dosa, maka
minta ampunlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian.”
Ini mengandung makna
bahwa apa yang diperbuat oleh Allah Subhanahuwata’ala terhadap mereka dalam hal
mengampuni kesalahankesalahan mereka, dikabulkannya permintaan mereka, dan
dilepaskannya mereka dari segala bentuk malapetaka, tidak berarti Allah
mengambil manfaat darimereka.(Madarijus Salikin 2/90)
Koreksilah
Berharapmu dan Perbaruilah Cintamu
Berharap itu sumbernya
adalah menyaksikan janji-janji Allah Subhanahu wata’ala dan berbaik
sangka kepada Allah Subhanahuwata’ala, serta menyaksikan segala apa yang
dipersiapkan oleh Allah Subhanahu wata’ala bagi orang yang mengutamakan Allah
Subhanahu wata’ala , Rasulullah n, dan negeri akhirat. Berharap menjadikan
petunjuk sebagai hakim terhadap hawa nafsunya, dan wahyu atas ra’yu-nya
(pendapatnya), sunnah atas bid’ah, dan menjadikan hakim segala apa yang telah
dilalui oleh para sahabat atas adat istiadat yang berlaku.
Sementara itu, cinta
itu sumbernya adalah menyaksikan nama-nama Allah Subhanahuwata’ala dan
sifat-sifat-Nya sebagaimana menyaksikan segala nikmat dan pemberian-Nya.
Apabila mengingat dosa-dosanya, ia berbalut rasa takut; apabila mengingat
rahmat Allah Subhanahuwata’ala, luas pengampuan, dan maaf-Nya, dia berbalut
rasa berharap; dan apabila mengingat keindahan dan keagungan Allah Subhanahu
wata’ala , kesempurnaan-Nya, kebaikan dan ikmat-Nya, ia akan berbalut rasa
cinta.
Oleh karena itu,
hendaklah setiap hamba menimbang imannya dengan tiga hal ini (takut, berharap,
dan cinta) agar dia mengetahui kadar iman yang dimilikinya. Sesungguhnya, hati
itu terfitrah dengan Ramah Lingkungan cinta kepada keindahan dan cinta kepada
Pemberi Keindahan, dan Allah Subhanahuwata’ala adalah Dzat Yang Mahaindah,
keindahan yang sempurna dari segala sisi.
Indah pada Dzat-Nya,
indah pada sifat-Nya, indah pada perbuatan-perbuatan-Nya, dan indah pada
nama-nama-Nya. Jika berkumpul keindahan seluruh makhluk pada seseorang lalu
dibandingkan dengan keindahan Allah Subhanahu wata’ala , perbandingannya lebih
lemah daripada pancaran cahaya lentera yang paling lemah di hadapan pancaran
sinar matahari. (Madarijus Salikin 3/288)
Sifat berharap yang
penuh kejujuran memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan seorang
muslim. Berharap akan membangkitkan dan mendorong untuk bertobat dengan benar,
mendorong untuk beramal saleh berharap keberuntungan dengan surga Allah
Subhanahuwata’ala, melihat-Nya, dan mendengar pembicaraan-Nya. Berharap yang
jujur akan menjaga akidah seorang muslim dari bergantung kepada makhluk
mengharapkan keberkahan dari mereka, atau syafaat, atau jalan keluar dari
malapetaka. Oleh karena itu, pada kehidupan seorang muslim yang jujur, Anda
tidak menjumpai penampilan-penampilan syirik dalam harapan, seperti mencari
berkah melalui kedudukan para nabi, dengan para wali, dan melalui
kuburan-kuburan mereka; atau mencari berkah di sumber mata air, gua, atau
tempat sejenisnya.
Sebab, seorang muslim mengetahui dengan
keyakinan yang benar bahwa Allah Subhanahuwata’ala adalah Dzat yang tunggal
dalam hal mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Dia mengimani bahwa Allah
Subhanahuwata’ala adalah satu-satunya Dzat tempat menggantungkan harapan segala
yang dicita-citakannya berupa kebaikan dunia dan akhirat.
(Atsaral-Matsalulal-A’la hlm. 25).***
Selasa, 23 Juli 2013
Mencontoh Puasa Rasulullah SAW, Bagian 2
TARGHIB PUASA RAMADHAN
1. Pengampunan Dosa
Allah dan Rasul-Nya memberikan targhib (spirit)
untuk melakukan puasa Ramadhan dengan menjelaskan keutamaan serta tingginya
kedudukan puasa, dan kalau seandainya orang yang puasa mempunyai dosa seperti
buih di lautan niscaya akan diampuni dengan sebab ibadah yang baik dan
diberkahi ini.
Dan dari Abi Hurairah radhiallahu 'anhu dari Nabi
Shalallahu 'alaihi wasalam bersabda (yang artinya) : Barangsiapa yang berpuasa
di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab maka akan diampuni dosa-dosanya
yang telah lalu.1)
Dari Abi Hurairah radhiallahu 'anhu juga
rasulullah Shalallahu 'alaihi wasalam pernah bersabda (yang artinya):
Shalat yang lima waktu, Jum'at ke Jum'at,
Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa yang terjadi diantara senggang waktu
tersebut jika menjauhi dosa besar.2)
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu juga, bahwa
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasalam pernah naik mimbar kemudian berkata:
Amin, Amin, Amin, ditanyakan kepadanya:Ya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasalam
: Engkau naik mimbar kemudian mengucapkan : Amin, Amin, Amin ? Beliau bersabda
:
Sesungguhnya Jibril alaihissalam datang kepadaku
dia berkata :barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak diampuni dosanya
maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan: Amin, maka akupun
mengucapkan : Amin …….3) Hadits.
2. Dikabulkannya do'a dan pembebasan dari
api neraka :
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasalam bersabda
(yang artinya): Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka setiap
siang dan malam bulan ramadhan, dan semua orang muslim yang berdo'a akan
dikabulkan do'anya.4)
3. Orang yang puasa termasuk shidiqin dan
syuhada.
Dari Amr bin Murrah Al-Juhani 5) -Radhiallahu
'anhu- berkata: Datang seorang pria yang datang kepada Nabi Shalallahu 'alaihi
wasalam kemudian berkata : Ya Rasulullah! Apa pendapatmu jika aku bersaksi
bahwa tidak ada sesembahan yang hak untuk diibadahi kecuali Allah, engkau
adalah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasalam, aku shalat lima waktu, aku
tunaikan zakat, aku lakukan puasa Ramadhan dan shalat tarawih di malam harinya,
termasuk orang yang manakah aku ? Beliau menjawab : Termasuk dari shidiqin dan
syuhada.6)
-----------------
1) HR Bukhori (4/99), Muslim (759). Makna: Penuh
iman dan Ihtisab yakni membenarkan wajibnya puasa, mengharapkan pahalanya,
hatinya senang dalam mengamalkan, tidak membencinya, tidak merasa berat dalam
mengamalkannya, diantaranya perkataan seseorang yang dijuluki:Amirnya penyair
yakni Ahmad Ayuqi.
2) Muslim (233)
3) HR Ibnu Khuzaimah (3/192) dan Ahmad (2/246 dan
254) dan Al-Baihaqi (4/204) dari jalan Abu Hurairah. Hadits ini SHAHIH, asalnya
terdapat dalam shahih Muslim (4/1978). Dalam bab ini banyak hadits dari
beberapa orang shahabat, lihatlah dalam Fadhoilu Syahri Ramadhan (hal. 25-34)
karya Ibnu Syahin.
4) HR Bazzar (3142), Ahmad (2/254) dari jalan
A'mas, dari Abu Shalih dari Jabir, diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1643) darinya
dengan ringkas dari jalan lain, hadits shahih . Do'a yang dikabulkan itu ketika
berbuka, sebagaimana akan datang penjelasannya lihat Misbahuh Azzujajah (no.
604) karya Al-Bushiri.
5) lihat (al-Ansab)(3/394) karya Assam'ani
(Allubab) (1/317) karya Ibnul Atsir.
6) HR Ibnu Hibban (no. 11-zawaidnya) sanadnya
SHAHIHSumber: syalafyoon.net
Rabu, 17 Juli 2013
Mencontoh Puasa Rawasulullah SAW, Bagian 1
Banyak sekali ayat yang tegas dan muhkam (Qath'i)
dalam kitabullah yang mulia, memberikan anjuran untuk puasa sebagai sarana
untuk Taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah Azza wa Jalla dan menjelaskan
keutamaan-keutamaannya, seperti firman Allah Ta'ala yang artinya :
Sesungguhnya
kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, kaum pria yang patuh
dan kaum wanita yang patuh, dan kaum pria serta wanita yang benar (imannya) dan
kaum pria serta wanita yang sabar (ketaatannya), dan kaum pria serta wanita
yang khusyu', dan kaum pria serta wanita yang bersedekah, dan kaum pria serta
wanita yang berpuasa, dan kaum pria dan wanita yang menjaga kehormatannya
(syahwat birahinya), dan kaum pria serta kaum wanita yang banyak mengingat
Allah. Allah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. (Surat
Al-Ahzab : 35)
Dan firman Allah yang artinya :
Dan kalau
kalian puasa itu lebih baik bagi kalian kalau kalian mengetahuinya. (Surat
Al-Baqoroh : 184)
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam telah menjelaskan dalam hadits yang shahih bahwa puasa adalah benteng dari syahwat, perisai dari neraka, Allah Tabaraka wa Ta'ala telah mengkhususkan satu pintu syurga untuk orang yang puasa, puasa bisa memutuskan jiwa dari syahwatnya, menahannya dari kebiasaan-kebiasaan yang jelek, hingga jadilah jiwa yang tenang. Inilah pahala yang besar, keutamaan yang agung, dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits shahih berikut ini, dijelaskan dengan penjelasan yang sempurna.
1. Puasa adalah perisai 1)
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam menyuruh
orang yang sudah kuat syahwatnya dan belum mampu untuk menikah agar berpuasa,
menjadikannya sebagai wijaa 2) bagi syahwat ini, karena puasa menahan kuatnya
anggota badan hingga bisa terkontrol, menenangkan seluruh anggota badan, serta
seluruh kekuatan (yang jelek) ditahan hingga bisa taat dan dibelenggu dengan
belenggu puasa. Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan
dalam menjaga anggota badan yang dhahir dan kekuatan batin.
Oleh karena itu Rasulullah Shalallahu 'alaihi
wasallam bersabda (yang artinya):
Wahai
sekalian para pemuda, barang siapa diantara kalian telah mampu baah 3) hendaknya menikah, karena menikah lebih
menundukan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barang siapa yang belum
mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa (pemutus syahwat)
baginya. 4)
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam telah
menjelaskan bahwa syurga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi,
dan neraka diliputi dengan syahwat, jika telah jelas demikian -wahai muslim-
sesungguhnya puasa itu menghancurkan syahwat, mematahkan tajamnya syahwat yang
bisa mendekatkan seorang hamba ke neraka, puasa menghalangi orang yang puasa
dari neraka, oleh karena itu banyak hadits yang menegaskan bahwa puasa adalah
benteng dari neraaka, dan perisai yang menghalangi seseorang dari neraka.
Bersabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam
(yang artinya):
Tidaklah
ada seorang hamba yang puasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia
(karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim .5)
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda
(yang artinya):
Puasa
adalah perisai, seoramg hamba berperisai dengannya dari api neraka.6)
Dan bersabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi
wasallam (yang artinya):
Barang
siapa yang berpuasa sehari di jalan Allah maka diantara dia dan neraka ada
parit yang luasnya seperti antara langit dengan bumi.7)
Sebagian Ahlul Ilmi telah memahami bahwa
hadits-hadits tersebut merupakan penjelasan tentang keutamaan puasa ketika
jihad dan berperang di jalan Allah, namun dhahir hadits ini mencakup semua
puasa jika dilakukan dengan ikhlas karena mengharapkan wajah Allah Ta'ala,
sesuai dengan apa yang dijelaskan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam
termasuk puasa di jalan. (yang disebutkan didalam hadits ini)
2. Puasa bisa memasukan seorang hamba ke dalam syurga.
Engkau
telah tahu wahai hamba Allah yang taat, mudah-mudahan Allah memberimu taufik
untuk mentaati-Nya, menguatkanmu dengan ruh dari-Nya, bahwa puasa menjauhkan
orang yang mengamalkannya dari neraka. Jika demikian berarti mendekatkannya ke
bagian pertengahan syurga.
Dari Abi Umamah radhiallahu 'anhu :
Aku berkata
: Ya Rasulullahu Shalallahu 'alaihi wasallam tunjukkan padaku amalan yang bisa
memasukanku ke syurga; beliau menjawab: Atasmu puasa, tidak ada (amalan) yang
semisal dengan itu.8)
3. Orang puasa yang diberi pahala yang tidak terhitung *
4. Orang yang berpuasa punya dua
kegembiraan *
5. Bau mulutnya orang yang puasa lebih wangi dari baunya misk*
Dari Abi Hurairah radhiallahu 'anhu : Rasulullah
Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda :
Semua
amalan bani Adam untuknya kecuali puasa 9), karena puasa itu untuk Aku dan Aku akan membalasnya, puasa adalah
perisai, jika salah seorang kalian sedang puasa janganlah berkata keji dan
berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya,
ucapkankanlah : Aku orang yang sedang puasa 10), demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya sesungguhnya bau mulut orang
yang puasa lebih wangi di sisi Allah daripada bau minyak misk 11), orang yang puasa punya dua kegembiraan, jika
berbuka gembira, jika bertemu dengan Rabbnya gembira karena puasa yang dia
lakukan.12)
Dalam riwayat Bukhori :
Meninggalkan
makan. minum dan syahwatnya karena Aku, puasa itu untuk-Ku. dan Aku yang akan
membalasnya. kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat.
Dalam riwayat Muslim :
Semua
amalan Ibnu Adam dilipat gandakan, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali, sampai
tujuh ratus kali lipat, Allah Ta'ala berfirman : Kecuali puasa, karena dia itu
untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, dan meninggalkan syahwat dan makanannya
karena Aku, bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan : gembira ketika berbuka,
dan gembira bertemu dengan Rabbnya, dan sungguh bau mulut orang yang puasa
disisi Allah adalah lebih wangi dari pada baunya misk.
6. Puasa dan Al-Qur'an akan memberikan syafaat kepada ahlinya :
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda
(yang artinya) :
Puasa dan
Al-Qur'an akan memberikan syafaat kepada hamba di hari kiamat, puasa akan
berkata : Wahai Rabbku, aku menghalanginya dari makan dan syahwat, berilah dia
syafaat karenaku, Al-Qur'an pun berkata : Aku telah menghalanginya dari tidur
di malam hari, berilah dia syafaat. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam
bersabda : maka keduanya memberi syafaat.13)
7. Puasa merupakan kafarat.
Diantara keistimewaan puasa, yang tidak ada dalam
amalan lain adalah; Allah menjadikannya sebagai kafarat bagi orang yang
memotong rambut kepalanya (ketika Haji) karena ada udzur sakit atau penyakit di
kepalanya, dan kafarat bagi yang tidak mampu untuk membeli kurban, kafarat bagi
pembunuh orang kafir yang punya perjanjian karena tidak sengaja, juga sebagai
kafarat bagi yang membatalkan sumpah, atau yang membunuh binatang buruan di
tanah haram, dan sebagai kafarat dhihar, akan jelas bagimu dalam ayat-ayat
berikut ini;
Allah Ta'ala berfirman (yang artinya) :
Dan
sempurnakanlah olehmu ibadah haji dan umrah karena Allah; maka jika kamu
terkepung (terhalang oleh musuh atau sakit), maka wajib menyembelih kurban yang
mudah didapat. Dan janganlah kamu mencukur rambut kepalamu, hingga kurban itu
sampai ketempatnya, maka barang siapa sakit atau ada gangguan di kepalanya,
maka hendaklah memberi fidyah, yaitu berpuasa atau memberi shodaqoh,
menyembelih kurban maka ketika telah aman maka barang siapa yang melaksanakan
ibadah haji dengan cara tamathu' maka wajiblah menyembelih kurban yang sudah di
dapat (membayar dam) maka barang siapa yang tidak menemukan (binatang kurban
atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari
lagi apabila kamu telah kembali itulah sepuluh hari yang sempurna. Demikianlah
bagi orang yang bukan dari penduduk Masjidil Haram, dan bertakwalah kepada
Allah dan ketahuilah bahwasanya Allah Maha keras siksanya. (Surat
al-Baqoroh : 196)
Allah Ta'ala juga berfirman yang artinya :
Dan jika ia
dari golongan orang yang mengikat perjanjian antara kamu dengan mereka, maka
hendaklah dibayar uang tebusan yang diserahkan kepada keluarganya, dan
merdekakan budak mu'mtetapi barang siapa tak mampu, maka berpuasalah dua bulan
berturut-turut, untuk penerimaan taubat dari pada Allah (sebagai suatu jalan
bertaubat) karena Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Surat
An-Nisaa' :92)
Allah Ta'ala berfirman yang artinya :
Allah tidak
menghukum kamu karena keterlanjuran sumpah-sumpahmu yang tidak di sengaja,
tetapi ia menghukum kamu karena sumpah yang kamu sengaja (apabila kamu
merusakannya) maka kifarat sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin,
yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu atau memberikan
pakaian kepada mereka atau memerdekan hamba sahaya. Barang siapa yang tidak
sanggup melakukan yang demikian, hendaklah ia berpuasa tiga hari. Itulah
kifarat sumpahmu jika kamu bersumpah. Dan peliharalah sumpah-sumpahmu (jangan
terlalu mudah bersumpah). Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat kepadamu,
supaya kamu mensyukuri. (Surat Al-Maidah ayat : 89)
Allah Ta'ala berfirman yang artinya :
Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu
sedang ihram. Barang siapa diantara kamu yang membunuhnya dengan sengaja, maka
wajiblah atasnya denda, ialah mengganti dengan binatang ternak yang seperti
binatang yang dibunuhnya yang ditetapkan oleh dua orang yang adil (penduduk
Mekkah) atau kifaratnya memberi makanan kepada orang-orang miskin. atau
berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu supaya merasakan akibat
perbuatannya barang siapa yang mengulangi lagi mengerjakannya, maka Allah akan
menyiksanya, Allah Maha Perkasa lagi mempunyai hak siksa.(Surat Al-Maidah :
95)
Allah Ta'ala berfirman yang artinya :
Orang-orang
yang mendhihar istrinya, kemudian ingin kembali kepada apa yang mereka katakan,
maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum keduanya bercampur
(bersetubuh). Demikian itu dijadikan nasihat kepadamu untuk mengerjakannya, dan
Allah senantiasa mengetahui rahasia apa yang kamu kerjakan maka barang siapa
yang tidak memperoleh budak (karena tidak kuat mengadakannya, atau memang tidak
ada), maka ia berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bersentuhan
maka barang siapa yang tiada berkuasa puasa, hendaklah memberi makan enam puluh
orang miskin (keringanan) yang demikian itu agar kamu beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya, dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang yang mengingkari
(hukum-hukum Allah itu) adzab yang pedih. (Surat Al-Mujadalah :3-4)
Demikian pula, puasa dan shodaqoh bisa
menghapuskan fitnah seorang pria dari harta, keluarganya dan anaknya. Dari
Hudzaifah Ibnul Yaman radhiallahu 'anhu, berkata Rasulullah Shalallahu 'alaihi
wasallam (yang artinya):
Fitnah pria
dari keluarga (istri), harta dan tetangganya, bisa dihapuskan oleh shalat,
puasa dan shodaqoh.14)
8. Rayyan bagi orang yang puasa.
Dari Sahl bin Sa'ad radhiallihu 'anhu, dari Nabi
Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : sesungguhnya dalam syurga ada satu pintu yang disebut dengan rayyan,
orang-orang yang puasa akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut,
tidak ada orang selain mereka yang memasukinya. jika telah masuk orang terakhir
yang puasa ditutuplah pintu tersebut, barang siapa yang masuk akan minum, dan
barang siapa yang minum tidak akan merasa haus untuk selamanya.15)
---------------------
1) Pelindung
2) Maksudnya memutuskan syahwat jiwa
3) Yang mampu menikah dengan berbagai macam
persiapannya
4) HR. Bukhori (4/106) dan Muslim (no. 1400) dari
Ibnu Mas'ud
5) HR. Bukhori (6/35), Muslim (1153) dari Abu
Sa'id AlKhudri, ini adalah lafadh Muslim. Sabda Rasulullah Sholallahu 'alaihi
wasalam : 70 musim yakni : perjalanan 70 tahun demikian dikatakan dalam Fathul
Bari (6/48)
6) HR. Ahmad (3/241), (3/296) dari Jabir, Ahmad
(4/22) dari Utsman bin Abil 'Ash. Ini adalah hadits yang shohih.
7) Dikeluarkan oleh Tirmidzi (no. 1624) dari
haditsAbi Umamah, dan didalam sanadnya ada kelemahan, Al-Walid bin Jamil dia jujur
tetapi sering salah, akan tetapi dia dapat diterima, dan dikeluarkan pula oleh
Thobroni di dalam Al-Kabir (8/260, 274, 280) dari dua jalan dari Al Qosim dari
Abi Umamah. Dan pada bab dari Abi Darda', dikeluarkan oleh Thobroni didalam
Ash-Shoghir (1/273) didalamnya terdapat kelemahan. Kesimpulan dari derajat
hadits ini adalah SHAHIH
8) HR Nasa'I (4/165), Ibnu Hibban (hal. 232
Mawarid), Al-Hakim (1/421) sanadnya SHAHIH
* seluruh paragraf terkumpul dalam yang akan kita
baca.
9) Yakni : baginya pahala yang terbatas, kecuali
puasa karena pahalanya tak terbatas
10) Dengan ucapan yang terdengar pencerca atau
orang yang mengganggu tersebut, ada yang mengatakan : diucapkan dihatinya agar
tidak saling cela atau saling memerangi!. Yang pertama lebih kuat dan lebih
jelas, karena ucapan secara mutlak artinya adalah dengan lisan, adapun bisikan
jiwa dibatasi oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam seperti yang
diriwayatkan oleh Abu Hurairah : Sesungguhnya Allah memaafkan umatku apa yang
terbetik dalam hati mereka selama belum berbicara, atau mengamalkannya.
(Muttafq 'alaihi), jelaslah bahwa ucapan itu mutlak terjadi kecuali dengan
ucapan yang dapat didengar yang terucap dengan huruf maupun dengan suara.
Wallahu a'lam.
11) Lihatlah apa yang ditulis oleh Ibnul Qoyyim
dalam Al-Wabilu Shoyyib minal kalami Ath-Thoyyib (hal 22-38).
12) HR. Bukhri (4/88), Muslim (no. 1151) ini
lafadz Bukhori.
13) Diriwayatkan oleh Ahmad (no.6626), Hakim
(1/554), Abu Nu'aim (8/161) dari jalan Huyyay bin Abdullah, dari Abdurrahman
Al-Hubuli, dari Abdullah bin Amr. Dan sanadnya HASAN. Al-Haitsami berkata dalam
Majmu' Zawahid (3/181) setelah menambah penisbatannya kepada Thobrani dalam
Al-Kabir : Rijalnya para perawi kitab shahih. Faidah Hadits ini dan yang
semisalnya menyatakan amalan itu berjasad, wajib diimani dengan keimanan yang
kuat, tanpa mentahrif atau mentakwilnya,karena demikianlah manhaj salafus
shalih, dan jalannya mereka tidak diragukan lebih selamt, lebih alim, dan
bijaksana (tepat), cukuplah bagimu bahwa itu adalah salah satu syarat iman,
Allah Ta'ala berfirman yang artinya : Orang-orang yang beriman kepada perkara
yang ghaib, mengerjakan shalat dan menginfakan apa yang kami berikan kepada
mereka. (Surat Al-Baqoroh : 3)
14) HR. Bukhori (2/7) Muslim (144)
15) HR. Bukhori (4/95). Muslim (1152) tambahan
akhir dalam riwayat Ibnu Khuzhaimah dalam kitab Shahihnya (1903)
Sumber: www.salafyoon.net
Sumber: www.salafyoon.net
Langganan:
Postingan (Atom)



