Kamis, 20 Juni 2013

Wisata Religi Makam Syekh Quro


Karawang pada masa Islam juga merupakan kawasan penting. Pelabuhan Caravam yang sudah eksis sejak masa Kerajaan Sunda tampaknya terus berperan hingga masa Islam. Salah satu situs arkeologi dari masa Islam di Karawang adalah makam Syekh Quro.

Menurut tulisan yang tertera pada panil di depan komplek makam, nama lengkap Syekh Quro adalah Syekh Qurotulain. Menurut naskah Purwaka Caruban Nagari, Syekh Quro adalah seorang ulama besar yang juga bernama Syekh Hasanudin, Syekh Mursyahadatillah atau Syekh Hasanudin bergelar Syekh Qurotulain. Beliau adalah putra ulama besar Perguruan Islam dari negeri Campa yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syekh Jamaluddin serta Syekh Jalaluddin ulama besar Mekah yang masih keturunan dari Sayidina Hussen bin Sayidina Ali Ra dan Siti Fatimah putri Rasulullah SAW.

Pada tahun 1418 datang di Pelabuhan Muara Jati, daerah Cirebon. Tidak lama di Muara Jati, kemudian pergi ke Karawang dan mendirikan pesantren. Disebutkan bahwa letak bekas pesantren Syekh Quro berada di Desa Talagasari, Kecamatan Talagasari, Karawang.

Di Karawang dikenal sebagai Syekh Quro karena beliau adalah seorang yang hafal Al-Quran (hafidz) dan sekaligus qori yang bersuara merdu. Sumber lain mengatakan bahwa Syekh Quro datang di Jawa pada tahun 1416 M dengan menumpang armada Laksamana Cheng Ho yang diutus Kaisar Cina Cheng Tu atau Yung Lo (raja ketiga jaman Dinasti Ming). Tujuan utama perjalanan Cheng Ho ke Jawa dalam rangka menjalin persahabatan dengan raja-raja tetangga Cina di seberang lautan. Armada tersebut membawa rombongan prajurit 27.800 orang yang diantaranya  terdapat seorang ulama yang hendak menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Mengingat Cheng Ho seorang muslim, permintaan Syekh Quro beserta pengiringnya untuk ikut menumpang kapalnya dikabulkan. Syekh Quro beserta pengiringnya turun di pelabuhan Karawang, sedangkan armada Cina melanjutkan perjalanan dan berlabuh di Pelabuhan Muara Jati Cirebon. 

Di Karawang pada tahun 1338 Saka (1416 M) mendirikan pesantren di Pura Dalem, diberi nama Pondok Quro yang artinya tempat untuk belajar Al Quran. Syekh Quro datang bersama anak angkatnya yang bernama Syekh Bentong alias Tan Go. Dari istrinya yang bernama Siu Te Yo  mempunyai seorang putri diberi nama Sie Ban Ci. Syekh Quro kemudian menikah dengan Ratna Sondari, putri Ki Gedeng Karawang. dan lahirlah Syekh Akhmad yang menjadi penghulu pertama di Karawang. 

Setelah melakukan islamisasi di Karawang Syekh Quro kemudian menjalani hidup menyendiri di Kampung Pulobata, Desa Pulokalapa. Di kampung ini beliau melakukan ujlah untuk mendekatkan diri kepada Allah agar memperoleh kesempurnaan hidup sampai akhir hayatnya.

Makam Syekh Quro ditemukan oleh Raden Sumareja (Ayah Ji’in) dan Syekh Tolha pada hari Sabtu akhir bulan Sya’ban tahun 1859. Mungkin karena ditemukan pada hari Sabtu maka hingga sekarang pada setiap hari Sabtu banyak orang yang berziarah. Komplek makam ini berada di pemukiman penduduk Kampung Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemah Abang tepatnya pada koordinat 06° 15' 101" Lintang Selatan dan 107° 28' 900" Bujur Timur. Komplek makam berada pada lahan seluas 2.566 m2 yang batas-batasnya sebelah utara pemukiman, timur, selatan, dan barat berupa sawah.

Komplek makam ini berada di sebelah selatan jalan desa. Sebelum memasuki komplek makam terdapat halaman yang sangat luas berfungsi sebagai tempat parkir kendaraan para peziarah. Di pinggir halaman parkir ini terdapat deretan warung yang menyediakan makanan serta benda-benda untuk keperluan ibadah seperti tasbih, peci, mukena, baju koko, dan kitab. Selain di pinggir lahan parkir, sebetulnya sudah disediakan tempat khusus untuk berjualan yang mirip pasar tradisional. Lahan tempat berjualan ini terletak di sebelah timur komplek makam. Aktivitas berjualan kelihatan hidup pada setiap hari Jumat malam hingga Sabtu, karena pada hari itu merupakan hari puncak pelaksanaan ziarah.

Komplek makam bagian depan diberi pembatas pagar tembok berwarna hijau. Bentuk arsitektur pagar tembok tersebut melengkung dengan jarak lengkungan tertentu sehingga terbentuk beberapa puncak lengkungan. Pada setiap puncak lengkung pagar dihias dengan semacam kubah masjid. Sisi-sisi lengkungan pagar berhias kaligrafi. Gerbang masuk bagian atasnya juga melengkung, tetapi lengkungannya merupakan kebalikan dengan lengkung pagar. 

Makam Syekh Quro berada di ruang utama di dalam bangunan yang sebelumnya berupa musala. Sejak dikeluarkan maklumat oleh Sunan Kanoman Cirebon, Pangeran Haji Raja Adipati Jalaludin dan surat pernyataan dari Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII nomor P-062/KB/PMPJA/XII/11/199 2 tangga] 5 November 1992, secara bertahap dilakukan penataan kawasan pemakaman tersebut.

Di sebelah barat gerbang masuk terdapat salah satu dari tujuh sumur keramat yang berada di komplek makam. Di sebelah timur gerbang masuk bagian dalam terdapat panil peringatan penemuan komplek makam. Pada panil peringatan tersebut juga tertulis pesan Syekh Quro yang berbunyi: “Ingsun titip masjid langgar lan fakir miskin anak yatim dhuafa”.

Di halaman dalam komplek makam terdapat masjid dan cungkup makam Syekh Quro. Sebagai objek yang bersifat living monument, semua bangunan di komplek makam ini selalu berkembang mengikuti situasi. Bangunan cungkup makam Syekh Quro sebagai bangunan inti merupakan bangunan baru, terbagi tiga bagian. Bagian depan merupakan bagian terbuka, bagian tengah merupakan ruangan untuk berdoa, dan bagian dalam tempat makam Syekh Quro. Para peziarah tidak diperkenankan memasuki ruangan makam Syekh Quro, peziarah cukup sampai di depan pintu ruangan.. Jirat makam berukuran 2,70 x 2,25 m. Nisan terbungkus kain putih. Tinggi nisan 85 cm. Di samping cungkup makam terdapat salah satu sumur keramat yang dinamakan sumur awisan. Sumur tersebut berdiameter 1 m. 

Selain makam Syekh Quro, di belakang bangunan utama terdapat Sutegaling dan sumur Awisan yang berdiameter 1 m. Sutegaling merupakan lokasi yang diyakini sebagai tempat juru kunci Astana Gunung Jati, Pangeran Tolakoh alias Ki Talka, atau Syekh Tolha dan Raden Somaredja, pada hari Jumat malam Sabtu bulan Rewah/Syaban tahun 1277 H/1859 M, mendapat pesan tanpa wujud, "Jagalah dan pusti-pustilah (pelihara) tempat ini, insya Allah akan membawa keberkahan untuk semuanya."

Hanya berjarak beberapa meter dari Sutegaling, terdapat Sumur Awisan. Bentuknya tidak ubahnya seperti sumur-sumur di perdesaan, tetapi yang membedakan sumur tersebut dengan sumur lainnya adalah sumur Awisan berair sangat bening dan tidak pernah kering meski kemarau.

Di tempat inilah, Syekh Hasanuddin atau Syekh Quro telah mengawali masuknya agama Islam ke tanah Jawa. Beliau telah membuka pesantren yang diberi nama Pesantren Quro yang khusus mengajarkan Alquran, sehingga beliau digelari Syekh Quro atau syekh yang mengajar Alquran. Dari sekian banyak santrinya, ada beberapa nama besar yang ikut di pesantrennya. Antara lain Putri Subang Larang, anak Ki Gedeng Tapa, Syah Bandar pelabuhan di sebelah utara Muarajati, Cirebon. Puteri Subang Larang inilah yang kemudian menikah dengan Prabu Siliwangi, penguasa kerajaan Pakuan Pajajaran.  (Bersambung ke Islamisasi Dinasti Prabu Siliwangi).

3 komentar:

  1. Ditunggu kelanjutan sejarahnya

    BalasHapus
  2. SAYA SEKELUARGA INGIN MENGUCAPKAN BANYAK TERIMAH KASIH KEPADA AKI NAWE BERKAT BANTUANNNYA SEMUA HUTANG HUTANG SAYA SUDAH PADA LUNAS SEMUA BAHKAN SEKARAN SAYA SUDAH BISA BUKA TOKO SENDIRI,ITU SEMUA ATAS BANTUAN AKI YG TELAH MEMBERIKAN ANKA JITUNYA KEPADA SAYA DAN ALHAMDULILLAH ITU BENER2 TERBUKTI TEMBUS..BAGI ANDA YG INGIN SEPERTI SAYA DAN YANG SANGAT MEMERLUKAN ANGKA RITUAL 2D 3D 4D YANG DIJAMIN 100% TEMBUS SILAHKAN HUBUNGI AKI NAWE DI 085-218-379-259

    BalasHapus